Monday, 13 July 2015

Membayar Harga Kesuksesan


Seorang teman pernah berkata bahwa nasib baik tidak ada sekolahnya. Dengan kata lain, nasib baik sudah ditentukan dan tidak ada kaitannya dengan sekolah; meski belajar sesuatu yang terbaik bahkan di tempat terbaik sekalipun. Sama artinya penguasaan keterampilan tertentu yang dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang tidak dapat menetukan kesuksesan seseorang.

SuksesPendapat semacam ini akan mengantarkan kita kepada kepercayaan bahwa lebih baik menunggu datangnya nasib baik karena belum tentu nasib baik itu akan datang, meski sudah kita usahakan dengan membanting tulang belajar dengan cara terbaik, mempelajari ilmu terbaik dan sekolah terbaik pula. Lebih berbahaya lagi pendapat ini akan mengarah pada menghakimi Tuhan tidak adil ataupun pilih kasih karena tidak memberikan nasib baik secara merata kepada kita.

Terhadap pendapat ini cukuplah kita pertanyakan, “Lalu apa gunanya strategi, determinasi, ketekunan, kerja keras, dan kesabaran yang kita lakukan? Jawaban sudah jelas bukan? Startegi dan seluruh upaya tentu ada gunanya karena hal itulah yang dapat membedakan antara seseorang yang sukses dan yang bukan.

Sebuah kata mutiara pernah saya dengar dari seseorang yang saya kagumi Dr. H. Bambang Marsono, M.Sc, MBA, Kita tidak akan menjadi apa-apa kalu tidak melakukan apa-apa.” Menurut beliau, seseorang ditentukan oleh upayanya. Seseorang hanya akan meraih sesuatu yang diusahakannya.

Meraih kesuksesan bukanlah sesuatu yang bersifat instan. Untuk meraihnya perlu waktu dan kerja keras (switch on, bukannya switch off). Seperti dalam hal menyalahkan sebuah lampu di kamar, bila seseorang menginginkan kamar dari kondisi gelap menjadi terang, maka ia perlu segera mencari stop kontak untuk dinyalakan (switch on). Nah, upaya menyalakan itulah dengan nyata membutuhkan energy dari yang menginginkan kamar terang. Namun, untuk menjadikan hal apapun, niscaya tidak perlu bersusah-susah mencari stop kontak dan menyalakannya (switch off).

Dalam hal ini, peristiwa menyalakan lampu (switch on) dianalogikan dengan keinginan seseorang untuk sukses mengubah kondisi yang tidak diharapkannya menjadi kondisi yang sesuai dengan harapannya.


Sebaliknya, peristiwa tidak menyalakan lampu (switch off) merupakan analogi dari seseorang tidak menginginkan kesuksesan apaun agar berhasil dicapainya.

Artikel Terkait

5 comments

semua orang memang punya pandangan masing-masing bro....

Ya memang setiap individu mempunyai pandangan masing masing .. tapi pemikiran ,,,sukses dengan cara yang instan itu di hindarkan :)

ya benar gan nasib sudah di tentukan,


EmoticonEmoticon