Saturday, 1 August 2015

Kualitas Mengunyah itu Penting

Mengunyah makanan

Mengunyah makanan adalah bagian penting dalam proses pencernaan. Makanan manusia terdiri dari unsur-unsur yang kompleks dengan komposisi sedemikian rupa. Tidak ada makanan yang hanya berisi satu nutrisi saja; berupa protein saja, lemak saja, karbohidrat saja, mineral saja, atau vitamin saja. Nasi misalnya, sekalipun unsur yang dominannya adalah karbohidrat, tetapi secara alami di nasi juga terkandung vitamin (selama dikonsumsi dengan benar). Melakukan pencernaan yang baik  memungkinkan nutrisi terserap optimal. Awal pencernaan yang baik, dimulai dari menguyah yang baik.

Menguyah selama ini paling utamabaru dipahami sebagai menimati sensasi rasa dari makanan. Kenyataan ini tidak cukup kuat untuk mendorong kita mengunyah maksimal apalagi berlama-lama. Sebab, di piring atau mangkok makanan ada bagian makanan berikutnya yang sudah menunggu. Kebanyakan kita memandang mengunyah sebatas upaya memperkecil ukuran bongkahan makanan agar kita tidak keselek.

Keliru menganggap kita telah terselamatkan sekadar karena tiada keselek di saat makan. Sekalipun makanan telah jatuh ke lambung dengan ‘aman’ (dan kita puas menghabiskan porsi makanan), kenyataan ini masih meninggalkan masalah ketika Anda tidak mengendalikan mulut Anda dengan baik; mengunyah makanan secara benar. Hal yang paling kentara untuk dijadikan contoh adalah penderita gastritis. Ketika memakan dengan cepat, mengunyah secara sebentar, setelah makan penderita gastritis justru akan merasa tidak di perut.

Pencernaan manusiaYang menjadi masalah adalah peristiwa setelah makan yang terjadi di lambung mereka. Di samping media penyimpanan, lambung adalah organ yang bergerak-gerak meremas-remas makanan yang masuk. Penyakit  gastritis atau maag diakibatkan terjadinya luka di lambung. Anda bias membayangkan apa akan terjadi pada luka tersebut jika ia selalu bersentuh dengan tekstur makanan yang masih kasar. Luka itu akan menjadi jadi! Di saat lambung kosong, karena asam lambung meningkat, luka yang bertambah akan lebih terasi lagi.

Sengaja kami mengambil contoh  ekstrem untuk menggambarkan bahwa tekstur makanan yang semakin halus membawa dampak baik bagi kesehatan diri. Jika selama ini beberapa saat setelah makan Anda justru tidak merasa nyaman, perut merasa berat atau kembung, atau telah mengonsumsi makanan dalam pilihan menu yang terbaik, tetapi tubuh masih merasa kurang berenergi, persoalannya bias sederhana: ada yang salah dalam proses pencernaan Anda.

Mengunyah adalah menyiapkan makanan bagi organ pencernaan setelah mulut agar ia bias dimanfaatkan optimal. Dalam hal ini, terkahir dengan kerja enzim-enzim. Di mulut kita terdapat enzim-enzim yang disekresi oleh kelenjar ludah. Selama kita menguyah, makanan akan terlumuri maksimal oleh ludah yang di dalamnya terkandung enzim.

Enzim berkerja seiring dengan seberapa luas  persentuhanya dengan baha yang hendak dicerna. Semakin luas wilayah persentuhannya dengan bahan yang hendak di cerna. Semakin luas wilayah persentuhan ini, semakin maksimal kerja enzim. Wilayah persentuhan makanan berbanding lurus dengan seberapa halus makanan tadi diupayakan, yaitu mengunyah. Butiran nasi yang hanya terpecah beberapa bagian saja, hanya bias menutupi sebagian kecil luas suatu area/bidang. Berbeda halnya jika ia dihaluskan, butiran-butirannya akan bersentuhan dengan bidang dalam area yang jauh lebih luas.

Enzim-enzim bekerja untuk substart yang spesifikais. Enzim tertentu memproses subtract tertentu pula. Di mulut terdapat enzim ptyalin yang bereaksi dengan karbohidrat dan enzim lingual lipase yang bereaksi dengan lemak yang ada di makanan. Barangkali di antara kita ada yang berfikir begini: tidak masalah makanan di telan lebih cepat sebab ia terlumuri oleh ludah yang mengandung enzim, biarkan reaksi kimia terjadi di dalam lambung. Anggapan ini keliru. Enzim-enzim bekerja dalam lingkungan yang spesifik. Enzim enzim di mulut hanya bias aktif hanya bias aktif di mulut yang kondisinya relative basa. Ia menjadi inakrif ketika sudah terbawa ke dalam lambung yang merupakan lingkungan asam.


Enzim yang ada di lambung atau organ pencernaan lain tidak bias menggantikan tugas dari enzim yang ada di mulut. Akhirnya dapat kita bayangkan, kita telah menyia-nyiakan karbohidrat dan lemak, tanpa tercerna dan terserap maksimal. Itu dua kandungan yang sudah diketahui ilmuwan. Hal-hal lainnya tentu masih misteri. Yang pasti, ada bagian yang mubazir dan ia berawal akibat kita abai terhadap usaha yang sangat sederhana: mengunyah secara benar! 

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon