Saturday, 5 September 2015

Cara Membuka Obrolan di Lingkungan Sekitar


Berkenalan

Konsep pembuka obrolan dengan menggunakan lingkungan sekitar. Caranya gampang banget, yaitu dengan memperhatikan lingkungan sekitarmu; bisa tentang apa yang sedang terjadi, apa yang menarik di sana, atau dimana kalian berada. Setelah memperhatikan lingkungan sekitar, buat komentar berdasarkan pengamatan tersebut.

Komentarnya bisa macam-macam, mulai dari komentar lucu, penasaran, atau umum saja. Meskipun boleh macam-macam, tetapi sebisa mungkin kamu hindari memberi komentar yang terlalu biasa sehingga membuat lawan bicara malas menanggapi komentarmu. Misalnya, ngomongin cuaca.

"Akhir-Akhir ini, cuacanya hujan terus ya? Jadi, dingin gini suhunya."

Seharusnya, komentar yang diberikan harus bisa lebih merangsang untuk diberikan tanggapan. Sebisa mungkin, cari topik yang unik. Kalau nggak bisa, buat komentar pertanyaan saja. Contoh:

  • "Makanan yang paling enak di sini apa ya? Aku baru nyobain makan di sini nih. Ada rekomendasi nggak?
  • "Musiknya kok kebanyakan musik-musik era 90an ya? Jadi kayak nostalgia zaman SMA. Eh...., kamu waktu 90-an gitu udah kelas berapa?" ]
  • "Itu MC yang sering tampil di televisi, bukan? Yang baru cerai dari suaminya itu, 'kan?"

Gampang banget 'kan membuat kalimat pembuka? Tapi, di balik kemudahannya tersebut, konsep ini memiliki kelemahan. Kelemahannya adalah terlalu biasa dan aman. Akibatnya, kalau nggak dilanjutkan ke pembicaraan lebih dalam dan berkesan, jadinya nggak akan diingat sama target.

Lain halnya kalau misalnya kamu menggunakan konsep derct atau indirect. Kamu akan lebih mudah diingat, karena berbeda dari yang lain. Selain itu, pas follow up juga lebih enak dan asyik. Misalnya, ketika kamu udah mendapat nomor handphone dan menghubunginya, pancing memorinya tentang kamu dengan membahas opener yang pernah kamu gunakan.

Contoh

Kamu      : "Ini yang kemarin nanya-nanya tentang opini kamu. Apa aku mirip pereman?"

Dia          : "Oooh kamu. Apa kabar?"

Kelemahan lain adalah terkadang kamu malah jadi terlalu asyik mencari situasi yang bisa dikomentari, sehingga sang target terburu menghilang meskipun hal yang asyik untuk dikomentari belum kamu dapat. Kesempatan untuk berkenalan pun hilang begitu saja.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon