Monday, 21 September 2015

Cara Merespon Penolakan

Bagaimana jika opener-mu ditolak? Atau, bagaimana kalau kamu diusir olehnya? Apa yang harus kamu lakukan jika ia tidak ingin diganggu? Jawabannya adalah kamu nggak perlu melakukan apa pun dan merasa terhina. Kalaupun memang ditolak, kamu nggak akan mendadak sakit perut, benjol-benjol, atau sakit kepala. Dengan kata lain, kamu akan baik-baik saja.

PenolakanPertanyaan-pertanyaan tersebut hanya timbul ketika kamu hendak berkenalan dengan lawan jenis yang kamu suka. Kalau kamu nggak suka dan nggak ngarep, nggak mungkin ilusi-ilusi penolakan tersebut muncul. Kalau hanya ingin menambah kontak pertemanan, kamu nggak akan takut ditolak ketika berinisiatif mengajak ngobrol terlebih dahulu. Nothing to lose . Mendapat teman syukur, nggak dapat ya nggak masalah. Kamu bisa berpikir bahwa tidak bisa berteman dengannya nggak masalah. Masih banyak orang lain yang bisa kamu jadikan teman.

Situasi akan berbeda jika orang tersebut menarik perhatianmu, baik secara fisik maupun kepribadian. Di pikiranmu akan bersemayam kalimat-kalimat "She's the one", "Ini nih cewek yang aku cari selama ini", atau "Aku harus kenal sama dia".

Dengan begitu, kamu berharap terlalubanyak di awal pandangan, sebelum berkenalan dan memulai obrolan. Kata-kata "harus" menjadi beban di pikiranmu. Tidak heran kalau kamu langsung stres dan menganggap penolakan sebagai halangan. Padahal, penolakan bisa menjadi dinamika yang seru, karena menguji kecakapan komunikasi dan respons kamu dalam menannggapi sesuatu.

Prinsip yang harus dipegang dalam menghadapi penolakan adalah harus santai, tidak panik, dan tidak menjawabnya dengan serius. Mungkin saja, waktu kenalan dengan pria atau wanita idaman, kamu mendapat tanggapan yang nggak enak. Sebagai contoh :

  • "Kamu siapa?"
  • "Ngapain nanya-nanya?"
  • "Mau ngapain ikutan duduk di sini?"
  • "Mau tau aja sin."
Nggak perlu khawatir, kamu bisa menanggapi kata-kata tersebut dengan santai dan tidak serius. Misal, dengan berkata seperti:


  • "Serius banget, Mbak. Jangan serius-serius banget dong. Serius Black saja matinya cepet. Eh, itu Serius ya? Hehehe."
  • "Serius banget sih, kayanya host berita."
  • "Phobia cowok keren, ya?"
  • "Habis diformalin ya? Kaku gitu."
  • "Gitu aja marah sih. Kayak mamanya Sinchan deh."
  • "Kok kesel gitu lihat aku? Aku 'kan bukan jarum timbangan."
  • "Kamu habis makan apa sih?"
  • "Aku cuma mau ngobrol kok. Aku 'kan nggak bilang pengen jadi pacar kamu."
  • "Di dalam kamus perasaan wanita, sebel akronim dari senang betul."
  • "Jangan ketus-ketus dong. Lama-lama aku pacarin lhoo."
  • "Saya jelek aja Mbak udah lirik-lirik gitu, apalagi ganteng."
  • "Jangan melototin aku gituh ah, nanti diabetes lho."

Intinya, jangan berharap terlalu banyak untuk bisa kenal, dapat nomor HP, jadi pacar, dan sebagainya. Lupakan dulu keharusan-keharusan tersebut. Jika nggak dilupakan kamu justru akan terbebani untuk menjawab dengan serius. Misal, saat ia bertanya, "Mau apa di sini?", kamu menjawab "Nggak papa kok Mbak. Cuma mau nanya-nanya saja. Maaf udah ganggu." Sound loser, isn't it? 

Serius apapun respons dia, jangan berikan tanggapan serius. Have fun dan bersenang-senanglah. Anggap saja kamu sedang menggoda sahabat lama. Penuhi candaan pada interaksi awal. Hal itu akan membedakanmu dengan puluhan pria yang mengajaknya berkenalan. Kalau cowok-cowok lain terkesan serius dan nggak santai, kamu bisa santai dan penuh canda.

Pada praktiknya, di awal interaksi dengan lawan jenis yang kamu suka, sangat mungkin kamu melupakan prinsip canda-candaan seperti itu. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri kalau hal tersebut terjadi. Hargai keberanianmu untuk menaklukan diri sendiri dan tetap maju kenalan, meskipun di dalam hati merasa takut. Anggaplah sebagai proses pembelajaran dan persiapkan respons-respons cerdas jika tantangan itu datang lagi. 

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon