Tuesday, 29 September 2015

Sejarah Membaca Wajah ala Tiongkok

Sejarah dan Perkembangan

Bentuk Wajah

Berbicara tentang kebudayaan Timur, berarti berbicara tentang kebudayaan Asia, dalam hal ini kebudayaan Tiongkok. Kebudayaan tersebut sudah berkembang maju sejak 2500 SM. Berbagai observasi, baik mengenai falsafah, pengembangan tanaman obat, teknik penyembuhan, teknik bela diri, tata letak bangunan (Feng Shui), maupun membaca wajah, telah tumbuh subur di negri itu.

Khusus mengenai pembacaan wajah, tabib Tiongkok mempergunakannya sebagai sarana bantu dalam mendiagnosis suatu penyakit. Pengenalan ciri dan perwatakan yang mendalam sangat membantu mereka dalam mendiagnosis suatu penyakit dan memilih terapi penyembuhan yang tepat. Lebih lanjut lagi, mereka bisa mengenal lebih dekat mengenai kepribadian para pasien.

Para pembaca wajah profesional Tiongkok didominasi oleh orang-orang yang memiliki profesi sebagai pendeta, ahli perbintangan, penasihat, peramal, bahkan ahli klenik (dukun). Mereka mempunyai bekal kemampuan membaca wajah karena dididik, sekaligus memiliki perhatian serius terhadap kesulitan-kesulitan manusia. Mereka sangat meyakini konsep bahwa wajah merepresentasikan energi, kekayaan, karakteristik, dan sifat seseorang.

Menurut pandangan Barat, hal ini merupakan suatu hal yang irasional. Namun, seiring dengan tumbuhnya ilmu akupuntur, pengobatan tumbuh-tumbuhan Tiongkok, Feng Shui, dan QI Gong mulai mendapat pengakuan dari pandangan Barat.

Seni membaca wajah memang telah dipraktikan sejak dulu, tetapi hingga sekarang masih relevan diterapkan. Bagi yang meyakini bahwa wajah mempunyai korelasi dengan karakteristik, sifat, kesehatan, dan peruntungan, seni membaca wajah ini bisa digunakan secara lintas budaya. Sebagai contoh, orang yang meninggal karena keracunan, ada pembuluh darah yang pecah, atau karena suatu penyakit, wajahnya akan tampak biru kehitam-hitaman. Percaya atau tidak, pertama kali yang kita lihat pada jenazah adalah wajahnya.

Sekitar tahun 220 SM, seni pembacaan wajah berkembang pesat dalam kehidupan bangsa Tongkok. Banyak buku yang menerangkan dan mengurai tentang anatomi tubuh, termasuk tentang pembacaan wajah, seperti Gunting Emas dan Catat Bambu. Pembacaan wajah di Tiongkok pertama kali digunakan secara lebih luas pada abas ke-6 SM. Ini diyakini sebagai spesialisasi dari para Taoist.

Konsep dasar seni membaca wajah adalah menguraikan diri manusia yang terdiri atas tiga tubuh. Tubuh yang pertama adalah tubuh secara fisik yang dapat dilihat dan disentuh, yakni tubuh fisik yang bersifat padat serta memiliki bentuk, warna, dan tekstur. Tubuh yang kedua dan ketiga adalah ruh dan jiwa. Tubuh dikendalikan oleh ruh (spiritual) dan jiwa (mental) yang bersifat abstrak serta bersatu dengan tubuh fisik.

Sementara itu, sifat-sifat dasar seseorang direfleksikan dalam bentuk fisik, terutama pada wajah. Wajah adalah tempat ekspresi jiwa dan keadaan kesehatan seseorang untuk pertama kalinya dapat di baca. Shakespeare dalam karyanya Macbeth  berkata, "Tidak ada seni untuk menemukan konstruksi pemikiran pada wajah". Sebab, wajah merupakan "buku" yang benar-benar tersebuka.

Seni membaca wajah diperkenalkan pertama kali oleh filsuf, Gui-Gu Tze, yang hidup di sekitar tahun 481-221 SM. Bukunya, Xiang Bian Wei Mang, sampai sekarang masih tetap digunakan dan dipelajari secara serius oleh pelajar fisiognomi.

Dalam praktiknya, seni pembacaan wajah ala Tiongkok cukup rumit karena mengklasifikasikan bentuk-bentuk wajah secara individual dengan menilai warna, ukuran, serta kecatatan-kecatatan atau tanda-tanda tertentu pada area wajah. Menurut pembacaan cara ini, wajah dibagi menjadi 108 area. Setiap area dapat merefleksikan situasi umur dan kehidupan tertentu. Dengan mengamati lima elemen siklus destruktif atau produktif, serta dipandukan dengan konsep yin dan yang , seseorang dapat memprekdisikan kejadian-kejadian tertentu, mendiagnosis penyakit, atau memahami kepribadian seseorang.

Agar bisa menjadi pembaca wajah yang baik, seseorang dituntut untuk mengingat sejumlah area yang tertera dalam bagua, dan memahami yang direpresentasikan oleh setiap trigram. Bagua adalah alat yang membagi wajah menjadi beberapa iklim, siklus tubuh, dan situasi kehidupan tertentu. Li (selatan) adalah dahi; area ini menggambarkan kemasyhuran dan unsur api. Dari dahi, energi ini dipancarkan. Kita bisa memastikan bahwa jika dahi mempunyai letak atau kontruksi yang bagus atau proporsional, maka pemiliknya kemungkinan akan mendapat kemasyhuran. Sedangkan, pusat wajah adalah Tai Chi. Tanda hitam di jembatan (tulang hidung) menandakan bencana karena air (hitam) melemahkan tanah. Dagu (kan) dalam bagua menggambarkan air. Jika warnanya merah (api) maka merupakan pertanda ada penyakit yang berkaitan dengan saluran kencing atau organ-organ terkait lainnya. Garis pada pelipis kanan (kun) memberikan indikasi pada masalah hubungan dengan orang-orang dekat.

 

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon