Tuesday, 29 September 2015

Seni Bercerita

Cerita selalu mampu memecah keheningan. Semua orang pasti punya teman yang ramai, selalu mampu menghidupkan suasana, dan jika bersamanya nggak pernah ada keheningan. Selalu ada yang dibahas dan diceritakannya.

Seni BerceritaSelain untuk menghidupkan suasana, melalui cerita secara nggak langsung juga memberitahukan kepada orang lain bahwa kamu memiliki hidup yang seru, menyenangkan, dan pengalaman menarik di masa lalu. Nggak peduli sedatar apapun hidupmu, semua orang pasti punya pengalaman untuk di ceritakan. Pengalaman itu bisa berarti pengalaman sendiri, orang lain, atau pengalaman yang pernah kamu dapat di TV, radio, dan dongeng. Nggak masalah dari mana sumber ceritanya, asalkan menarik.

Gimana cara membuat cerita jadi menarik untuk didengar? Ada banyak faktor yang mempengaruhi ketertarikan dari pendengar, seperti:

1. Memancing keterlibatan lawan bicara dengan menyisipkan pertanyaan-pertanyaan kepada pendengar untuk membuat dia ikut terlibat dalam cerita.

2. Membuat sound effect dan gerakan tangan saat bercerita.

3. Nada suara berubah-ubah mengikuti alur cerita, jangan hanya datar.

Contoh 

Kamu    : "Udah pernah dengar cerita tentang asal shuffel dance belum?"

Dia        : "Belum, cerita dong"

Kamu    : "Di suatu pagi yang cerah, di daerah Melbourne Australia, ada sebuah tarian tradisional. Tapi, jangan bayangin tarian tradisional Australia sama seperti tarian jawa ya. Beda banget"

Dia        : "Emang bedanya apa?"

Kamu    : "Coba tebak, apa bedanya tarian di jawa dengan Australia?"

Dia        : (mikir) "Mmm..., nggak tau. Apaan sih?"

Kamu    : "Bedanya, kalau tarian jawa berasal dari Indonesia, sedangkan tari Australia dari luar negri."

Dia        : "Yeee..., kalau gitu doang sih gue tau."

Kamu    : "Nah, terus dari tari tradisional Australia itu dimodifikasi sama anak-anak muda disana, diubah menjadi gerakan yang bertumpu dan fokus sama kaki."

Dia        : "Kenapa harus kaki? Kenapa nggak tangan aja?"

Kamu    : "Nah, kalau itu, ceritanya gini. Australia 'kan sama kayak indonesia. Bentuk negara mereka itu kepulauan. Jadi, dulu di Australia banyak yang kerja di kapal atau jadi pelaut."

Dia        : "Terus, hubungannya apa kerja di kapal sama gerakan kaki di shuffel dance."

Kamu    : "Coba tebak apa hubungannya! Kalau kamu tahu, ntar aku di traktir mie ayam ya."

Dia        : "Laaah, kalau itu sih mending aku nggak tahu aja jawabannya."

Kamu    : (Acak-acak rambutnya) "Iiih dasar pelit kamu."

Dia        : "Haaa..., iya deh kapan-kapan aku traktir."

Kamu    : "Janji ya."

Dia        : (Mengangguk)

Kamu    : "Nah, jadi ceritanya gini, kenapa tarian itu jadi lebih banyak pakai kaki. Kerja di kapal 'kan ngebosenin tuh, berhari-hari yang dilihat hanya laut, nggak ada yang lain. Nah, jadinya pekerja-pekerja di situ sering nari-nari tradisional Australia. Tapi, karena di kapal sempit dan orangnya banyak, tangan mereka jadi nggak leluasa bergerak, yang bisa gerak cuma kaki. Jadi, diubah deh sama mereka tarian Australia menjadi tarian kaki kayak orang berjalan. 

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon